Sabtu,
10 Mei 2014. Saya mendapatkan banyak pengalaman yang baru dan belum pernah sama
sekali saya rasakan. Pengalaman baru ini memberi banyak pelajar bagi diri saya
dengan mendatangi sebuah Rumah Sakit Jiwa Grhasia. Awalnya saya merasa takut
dan merasa iba melihat mereka. Tapi ketika saya harus mencoba untuk mendekatkan
diri kepada mereka, karena saya menyadari bahwa mereka akan menjadi saudara dan
menjadi sahabat saya nantinya ketika saya lulus dan menjadi seorang Sarjana
Psikologi.
Saya
sangat beruntung karena saya masih bisa merasakan kehidupan yang normal. Saya
merasa beruntung karena tempat tinggal saya masih dirumah dikala saya pulang
bukan di sebuah rumah sakit jiwa, dan saya juga masih sangat beruntung ketika
semua anggota keluarga saya masih peduli dan masih memberikan kasih sayang
kepada saya.
Menjalani
liku-liku perjalanan hidup memanglah sulit, ketika kita tidak bisa mengontorol
diri kita, kita akan masuk kedalam lubang keabnormalan yang bisa membuat kita
tidak merasakan kehidupan sebenarnya. Saya melihat rata-rata pasien yang ada di
RSJ Grhasia masalah utama adalah sebuah kehidupan. Salah satunya adalah pasien
yang saya wawancarai yaitu Mbak Susi. Dilihat dari tatapan matanya dia sangat
membutuhkan sebuah kasih sayang dari orang-orang yang menurutnya penting dalam
hidupnya. Mbak Susi mengatakan bahwa orang yang sangat dia sayangi adalah
ibunya. Selama dia berada di rumah sakit tersebut ibunya maupun anggota
keluarganya belum pernah sama sekali melihat keadaannya. Mbak Susi juga
mengatakan kalau dia sangat rindu dengan ibunya, dia ingin sekali bertemu
dengan ibunya bahkan Mbak Susi mengatakan bahwa dia ingin kembali kerumah. Bahkan
orang sudah terkena gangguan jiwa pun masih memiliki rasa sayang yang besar
kepada keluarganya yang sudah mengirimkan mereka ke sebuah rumah sakit jiwa dan
lebih menyerahkannya kepada para suster, bagaimana dengan kita yang masih
memiliki jiwa yang sehat? Apakah kita masih memiliki rasa sayang dan peduli
kepada orang-orang yang penting dalam hidup kita?
Ketika
saya mengajukan beberapa pertanyaan yang bersangkutan dengan bapak dia sempat
terdiam. Kemungkinan besar salah satu penyebab dia memiliki gangguan jiwa
berasal dari bapaknya. Karena dilihat dari rekam medis Mbak Susi bapaknya
kemungkinan menikah dua kali. Tetapi dia ketika dia bercerita dia juga sayang
kepada bapaknya. Dia rindu dikala bapaknya selalu menggendong dia, mungkin hal
ini dia membayangkan ketika dia masih kecil.
Mendengar
cerita Mbak Susi saya merasa kasihan, karena menurut saya dia seperti itu faktor
utamanya adalah konflik yang ada didalam keluarganya. Seharusnya kita yang
masih memiliki jiwa yang sehat harus bisa sadar dan introspeksi diri bahwa
kejadian yang ada disekitar kita bisa menimbulkan sebuah konflik yang membuat
salah satu dari anggota keluarga kita bisa terkena gangguan jiwa.
Selain
itu diselang wawancara saya didatangi oleh 1 pasien yang tidak ikut dalam
proses wawancara. Awalnya dia berkenalan dengan saya dan mulai bercerita
tentang keluarganya juga. Mendengar ceritanya, ibu ini memiliki gangguan jiwa
karena suaminya selingkuh. Kejadian tersebut membuat dia menjadi stres dan
anggota keluarganya langsung memasukkan ibu tersebut ke Rumah Sakit Jiwa
Grhasia. Dia mengatakan lagi bahwa dia tidak sakit jiwa, tetapi anggota
keluarganya langsung memasukkna dia ke rumah sakit jiwa tersebut. Dari
pengakuan ibu ini sebenarnya dia tidak ingin tinggal di RSJ tersebut. Saya
melihat bahwa mereka yang berada di RSJ tersebut tidak ingin berada disana.
Karena hal itu membuat mereka kehilangan sebuah kasih sayang dari orang
terdekar dan mereka juga kehilangan kepedulian dari orang-orang yang mereka
sayangi.
Jadi
buat kita yang masih memiliki jiwa yang sehat dan normal, kita harus peduli
terhadap lingkingan sekitar kita, baik itu dengan keluarga maupun sahabat-sahabat
yang penting dalam hidup kita. Jangan sampai orang-orang yang kita sayangi
jatuh kedalam lubang keabnormalan yang membuat dia tidak akan merasakan
kehidupan yang bermakna bagi dirinya.
SELAMAT MALAM ;)